Felix Zwayer adalah seorang wasit sepak bola asal Jerman yang namanya mencuat tidak hanya karena kiprahnya di lapangan hijau, tetapi juga karena keterlibatannya dalam skandal pengaturan skor yang mengguncang sepak bola Jerman pada tahun 2005.
Meskipun sempat dijatuhi sanksi, Zwayer berhasil kembali dan meniti karier hingga level tertinggi, termasuk memimpin pertandingan-pertandingan penting di kompetisi UEFA. Namun, bayang-bayang masa lalunya tetap membayangi setiap langkahnya di dunia sepak bola.
Awal Karier dan Keterlibatan dalam Skandal 2005
Felix Zwayer memulai kariernya sebagai asisten wasit di Jerman. Pada tahun 2004, ia terlibat dalam sebuah pertandingan antara Wuppertaler SV dan Werder Bremen Amateure, di mana ia menerima suap sebesar €300 dari wasit Robert Hoyzer untuk “menghindari situasi kritis bagi Wuppertaler SV” .
Skandal ini merupakan bagian dari skema pengaturan skor yang lebih besar yang melibatkan sindikat perjudian asal Kroasia dan beberapa wasit lainnya.
Pada Januari 2005, Felix Zwayer bersama tiga wasit lainnya melaporkan aktivitas mencurigakan Hoyzer kepada Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB).
Sebagai hasilnya, Hoyzer mengakui perbuatannya dan dijatuhi hukuman penjara serta larangan seumur hidup dari dunia sepak bola. Sementara itu, Zwayer menerima sanksi larangan enam bulan dari DFB karena keterlibatannya, meskipun ia juga membantu mengungkap skandal tersebut
Kembalinya ke Dunia Sepak Bola dan Karier Internasional
Setelah menjalani sanksi, Felix Zwayer kembali ke dunia sepak bola dan perlahan meniti kariernya kembali. Ia mulai memimpin pertandingan di Bundesliga pada tahun 2009 dan menjadi wasit FIFA sejak 2012. Zwayer juga dipercaya untuk memimpin pertandingan-pertandingan penting di Liga Champions, Liga Europa, serta kualifikasi Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa
Pada tahun 2018, ia ditunjuk sebagai asisten wasit video (VAR) di Piala Dunia FIFA di Rusia, menandai pengakuan atas kemampuannya di level tertinggi. Namun, meskipun prestasinya diakui, masa lalunya tetap menjadi sorotan, terutama ketika ia ditunjuk untuk memimpin pertandingan-pertandingan penting.
Kontroversi dan Kritik yang Terus Membayangi
Meskipun telah kembali dan menunjukkan performa yang konsisten, Felix Zwayer tidak lepas dari kontroversi. Pada Desember 2021, ia memimpin pertandingan antara Borussia Dortmund dan Bayern Munich yang berakhir dengan kekalahan 3-2 untuk Dortmund.
Keputusan-keputusannya dalam pertandingan tersebut, termasuk pemberian penalti kepada Bayern dan penolakan penalti untuk Dortmund, menuai kritik tajam
Gelandang Dortmund saat itu, Jude Bellingham, secara terbuka mengkritik penunjukan Zwayer dengan mengatakan, “Anda memberikan pertandingan terbesar di Jerman kepada wasit yang pernah terlibat dalam pengaturan skor, apa yang Anda harapkan?” . Komentar ini menyebabkan Bellingham didenda €40.000 oleh DFB atas perilaku tidak sportif.
Setelah insiden tersebut, Felix Zwayer mengambil cuti dari tugasnya sebagai wasit dan kembali beberapa bulan kemudian untuk memimpin pertandingan di divisi kedua Jerman. Namun, setiap kali ia ditunjuk untuk pertandingan penting, masa lalunya kembali menjadi bahan perdebatan di kalangan penggemar dan media.
Penunjukan Kontroversial di Kompetisi UEFA
Pada tahun 2024, UEFA menunjuk Felix Zwayer untuk memimpin semifinal Euro 2024 antara Inggris dan Belanda. Penunjukan ini kembali memicu kontroversi, terutama di kalangan penggemar Inggris yang mengingat komentar Bellingham sebelumnya. Meskipun demikian, UEFA menyatakan kepercayaan penuh terhadap integritas dan kemampuan Felix Zwayer sebagai wasit.
Pelatih Inggris, Gareth Southgate, juga menyatakan bahwa ia tidak memiliki kekhawatiran terhadap penunjukan tersebut dan memilih untuk fokus pada persiapan timnya. Namun, penunjukan ini menunjukkan bahwa meskipun telah menjalani sanksi dan kembali berkarier, masa lalu Zwayer tetap menjadi bayang-bayang yang sulit dihindari.
Kesimpulan
Kisah Felix Zwayer adalah contoh kompleksitas dalam dunia sepak bola profesional, di mana seseorang yang pernah terlibat dalam skandal serius dapat kembali dan mencapai puncak karier, namun tetap dibayangi oleh masa lalunya. Meskipun telah menunjukkan kemampuan dan integritas dalam tugasnya sebagai wasit, kontroversi dan kritik terus mengikuti setiap langkahnya.
Kasus ini juga menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam dunia olahraga, serta bagaimana keputusan masa lalu dapat memiliki dampak jangka panjang terhadap persepsi publik.
Bagi Felix Zwayer , perjalanan kariernya adalah bukti bahwa rehabilitasi dan pengampunan mungkin terjadi, tetapi kepercayaan publik adalah sesuatu yang sulit untuk sepenuhnya dipulihkan.












