Paul Pogba, salah satu gelandang berbakat di dunia sepak bola, kembali menjadi sorotan publik. Kali ini bukan karena permainannya di lapangan, melainkan akibat perasaan kecewa yang ia simpan terhadap klubnya, Juventus.
Klub raksasa Italia itu seharusnya menjadi tempat di mana Pogba kembali menemukan performa terbaiknya setelah berpulang dari Manchester United. Namun, perjalanan kariernya di Turin justru diwarnai cedera, skandal, dan ketegangan di dalam maupun luar lapangan.
Semua faktor ini membuat sang pemain merasa kecewa dan bahkan frustrasi dengan situasi di klubnya. Dalam esai ini, kita akan mengupas secara mendalam penyebab di balik kekecewaan Pogba terhadap Juventus, dampaknya terhadap kariernya, hingga potensi masa depannya di dunia sepak bola.
Kembalinya Paul Pogba ke Juventus
Pada musim panas 2022, Paul Pogba membuat keputusan mengejutkan banyak pihak dengan meninggalkan Manchester United dan kembali ke Juventus secara cuma-cuma.
Ia pernah menjadi bintang di Turin antara 2012 hingga 2016, mempersembahkan banyak trofi dan memikat hati para Juventini berkat skill dan kreativitasnya di lini tengah.
Pogba dan agennya yakin bahwa kembali ke Turin adalah langkah tepat untuk menghidupkan lagi kariernya dan menjauh dari tekanan media Inggris. Juventus pun menyambutnya hangat, berharap bahwa sang gelandang Prancis ini bisa menjadi motor baru untuk membawa mereka kembali ke kejayaan domestik dan Eropa.
Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Musim pertamanya di periode kedua ini langsung terganggu cedera lutut parah yang memaksanya menepi hingga berbulan-bulan. Ketika ia bisa kembali ke tim utama, banyak perubahan terjadi di Juventus, dan atmosfer klub jauh dari kondusif.
Cedera dan Rehabilitasi yang Panjang
Salah satu sumber utama kekecewaan Pogba adalah proses rehabilitasi cederanya. Ia harus berjuang melawan cedera lutut dan hamstring berulang kali sepanjang musim 2022–2023 dan 2023–2024.
Staf medis Juventus, menurut sejumlah sumber, memiliki perbedaan pandangan soal metode pemulihan Pogba. Ia sempat ingin segera operasi agar bisa tampil di Piala Dunia 2022, tetapi akhirnya memilih terapi konservatif sesuai saran klub, sebuah keputusan yang justru memperpanjang masa pemulihan dan membuatnya absen lebih lama.
Dalam proses rehabilitasi ini, Pogba merasa kurang mendapat dukungan mental dan teknis dari klub. Ia kerap berlatih sendirian di pusat kebugaran Vinovo dan terisolasi dari rekan-rekan setimnya. Hal ini membuatnya semakin frustrasi dan merasa seperti ‘orang luar’ di klubnya sendiri.
Hukuman dan Skandal Doping
Selain masalah cedera, kekecewaan Pogba juga diperparah oleh kasus dugaan doping pada awal musim 2023–2024. Ia dites positif untuk testosteron sintetis, membuatnya terancam sanksi larangan bermain hingga dua tahun. Pogba membantah sengaja mengonsumsi doping dan menyatakan bahwa itu bisa saja akibat suplemen nutrisi yang ia konsumsi tanpa sengaja.
Namun, reaksi Juventus di mata Pogba cenderung dingin dan jauh dari kata suportif. Klub langsung membekukan statusnya dari skuad utama, menghentikan gajinya sesuai kontrak, dan berkoordinasi ketat dengan otoritas antidoping Italia.
Ia merasa Juventus terlalu cepat menjauh dan menghakimi dirinya sebelum ada keputusan final. Bagi Pogba, reaksi klub itu mencerminkan kurangnya loyalitas dan empati terhadap pemainnya sendiri, terutama yang sedang menghadapi situasi sulit.
Ketegangan Paul Pogba di Balik Layar
Selain masalah pribadi, Juventus sebagai klub juga tengah bergulat dengan masalah internal dan tekanan eksternal. Pada 2023, mereka sempat terkena sanksi pengurangan poin di Serie A akibat skandal keuangan, membuat suasana tim semakin suram.
Situasi ini memengaruhi mentalitas semua pemain, termasuk Pogba. Alih-alih bisa fokus memperbaiki performa, Pogba mendapati dirinya terjebak dalam klub yang terus-menerus dilanda drama dan ketidakpastian.
Ia merasa Juventus saat ini bukanlah klub sama seperti ketika ia pertama kali datang di tahun 2012. Tidak ada lagi harmoni ruang ganti yang solid, semangat juara tampak luntur, dan kepercayaan diri tim anjlok akibat masalah di luar lapangan. Semua itu membuat Pogba merasa bahwa harapan untuk mengembalikan kejayaan Juventus di periode keduanya nyaris mustahil.
Dampak terhadap Mental dan Reputasi
Kekecewaan Pogba terhadap Juventus tak hanya berpengaruh secara fisik, tetapi juga mental. Ia harus berjuang melawan stigma bahwa dirinya sudah lewat masa kejayaan dan sering dilabeli sebagai pemain bermasalah.
Media Italia dan Eropa acap kali memberitakan bahwa Pogba hanya memikirkan gaya hidup dan urusan di luar sepak bola ketimbang fokus ke permainannya. Situasi ini memperburuk hubungan Pogba dengan suporter Juventus, sebagian dari mereka mulai kehilangan simpati dan yakin bahwa klub lebih baik tanpa kehadirannya.
Bagi seorang pemain kelas dunia, situasi ini begitu berat. Ia harus melawan persepsi negatif sekaligus mengembalikan kepercayaan dirinya sendiri. Dukungan dari orang-orang terdekatnya seperti keluarga dan agen menjadi sangat vital agar Pogba tidak tenggelam dalam kekecewaan berkepanjangan.
Perbandingan dengan Masa Pertama Paul Pogba di Juventus
Ketika melihat kembali masa pertamanya di Juventus, perbedaan suasana begitu kontras. Pada periode 2012–2016, Pogba bermain di bawah pelatih seperti Antonio Conte dan Massimiliano Allegri dalam versi mereka yang lebih berapi-api dan ambisius.
Ia dikelilingi pemain-pemain berpengalaman seperti Andrea Pirlo, Gianluigi Buffon, dan Giorgio Chiellini, yang bisa membimbing dan memotivasi dirinya. Juventus saat itu adalah mesin juara di Serie A dan langganan di babak akhir Liga Champions.
Kini, komposisi tim lebih banyak diisi pemain muda dan para rekrutan baru. Selain itu, Juventus di periode ini sering berganti pelatih dan strategi, membuat stabilitas tim terguncang.
Pogba harus beradaptasi dengan rekan-rekan baru dan suasana tim yang jauh berbeda. Faktor ini membuatnya merasakan bahwa “Juventus kini bukan Juventus yang dulu,” dan perasaan kecewa pun semakin mendalam.
Pandangan Para Pengamat dan Mantan Rekan
Sejumlah legenda Juventus dan pengamat sepak bola turut berkomentar mengenai situasi Pogba. Claudio Marchisio, mantan rekan setim Pogba, menilai bahwa Pogba butuh lingkungan lebih hangat dan penuh kepercayaan agar bisa kembali ke performa terbaiknya.
Sementara itu, pakar transfer Fabrizio Romano melaporkan bahwa pihak Pogba sudah menjajaki kemungkinan untuk meninggalkan Juventus lebih cepat, meski kontraknya baru akan berakhir pada 2026.
Selain itu, banyak pengamat menilai bahwa Juventus dan Pogba sama-sama dirugikan dalam situasi ini. Juventus kehilangan sosok playmaker berkelas dunia yang bisa membawa mereka ke level tertinggi, sedangkan Pogba kehilangan panggung dan klub tempatnya bisa bersinar.
Kemungkinan Masa Depan Paul Pogba
Apa selanjutnya untuk Paul Pogba? Jika masalah dopingnya bisa diselesaikan dan hukuman berakhir lebih ringan, Pogba bisa saja kembali bermain untuk Juventus dan mencoba memperbaiki situasi.
Namun, banyak pihak memprediksi bahwa Pogba akan mencari tantangan baru di luar Italia. Liga Saudi, MLS, atau bahkan kembali ke Premier League bisa menjadi alternatifnya. Ia butuh lingkungan baru, klub baru, dan suasana baru untuk benar-benar memulai kembali.
Pada usia menjelang 32 tahun, karier Pogba memasuki fase kritis. Ia harus cepat menentukan langkah dan memastikan setiap keputusan berikutnya benar-benar membawa perubahan positif, baik untuk performa di lapangan maupun untuk kesehatan mentalnya.
Kesimpulan Paul Pogba
Kekecewaan Pogba terhadap Juventus adalah akumulasi dari banyak faktor: cedera panjang, skandal doping, atmosfer klub yang kurang mendukung, hingga perubahan wajah Juventus dibanding masa kejayaannya dulu.
Semua faktor ini membuat Pogba merasa seperti berjuang sendirian dan kehilangan jati diri sebagai pemain hebat. Di tengah semua tantangan itu, Pogba tetap punya peluang untuk bangkit — entah tetap di Juventus atau berpindah ke klub baru.
Namun, satu hal pasti: agar bisa kembali ke performa puncaknya, Pogba perlu memperbaiki segalanya dari dalam dirinya dan mendapatkan dukungan dari lingkungan yang benar-benar mempercayainya.












